HALO, NAMA SAYA “SIBUK”

Kesibukan (busy) menjadi sebuah dilema dalam hidup kita. Di satu sisi kita mengeluh atau tidak suka terlalu sibuk, tetapi di sisi lain, kita tidak suka disebut “tidak sibuk” atau “kurang kerjaan.”

Ada sebagian orang, bangga sekali disebut sebagai orang “sibuk”,
karena kesibukan dianggap sebagai tanda produktivitas dan nilai guna seseorang.

Apakah salah jika kita sibuk? Tentu tidak!
Karena semakin banyak kita berkarya dan berkreasi dalam hidup ini,
maka kesibukan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup kita.
Ada masa-masa kita sangat sibuk, sehingga kita harus lembur bekerja.

Namun, kita harus waspada dan berhati-hati, jangan sampai kesibukan menjadi tuan atas diri kita, dan kita menjadi budak dari kesibukan. Tuan kita yang sesungguhnya haruslah selalu Yesus Kristus, Sang Pemilik dan Pengarah kehidupan kita.

Seorang Profesor Spiritual Theology di Regent College, Vancouver, bernama Eugene Peterson berpendapat bahwa “sibuk (busy) bisa bermakna positif dan negatif.

Kesibukan dalam arti positif adalah bukti ketekunan, kesungguhan, dan kesetiaan seseorang untuk menjalani kehidupannya sebagai sebuah kehidupan yang bermakna dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Namun, Eugene Peterson mengingatkan, bahwa kita harus berhati-hati supaya tidak jatuh dalam “kesibukan” secara negatif, yaitu:

“Kita mengerjakan banyak aktivitas dalam hidup ini, tetapi kita mengabaikan dan mengkhianati hal-hal yang esensial dalam hidup dan panggilan kita yang seharusnya dikerjakan.”

Eugene Peterson tidak bermaksud ingin mengatakan supaya kita bermalas-malasan atau bersantai-santai dalam hidup ini.
Dia juga tidak bermaksud mengajarkan supaya kita tidak perlu melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan dalam hidup ini. Sama sekali bukan! Prinsip Alkitab mengajarkan kita untuk bekerja keras, tetapi Alkitab melarang kita untuk “kecanduan kerja” (workaholic).
Itulah sebabnya, Tuhan sendiri sejak awal penciptaan menetapkan hari Sabat, hari Perhentian bagi manusia.

Eugene Peterson sebenarnya hendak menegaskan bahwa tidak sedikit orang, atas nama kesibukan, “mengabaikan” pasangan dan keluarganya, “mengabaikan” kerohanian dan sesamanya, “mengabaikan” waktu istirahat yang cukup yang sebenarnya sangat baik untuk diri kita sendiri.

Jika begitu sibuknya kita dalam pekerjaan atau hal-hal lainnya, sampai-sampai kita sering tidak datang ibadah bersama di hari Minggu, mungkin kita sudah jatuh dalam kesibukan secara negatif.
Jika begitu sibuknya kita, sampai-sampai kita sulit untuk menyediakan waktu hening untuk berdoa dan merenungkan firman Tuhan, mungkin kita sudah jatuh dalam kesibukan secara negatif.
Jika begitu sibuknya kita, sampai-sampai kita sulit menyediakan waktu yang cukup untuk pasangan dan keluarga kita, mungkin kita sudah jatuh dalam kesibukan secara negatif.
Jika begitu sibuknya kita, sampai-sampai kita sulit untuk menyediakan waktu secara khusus untuk mengevaluasi kerohanian dan hidup kita, mungkin kita sudah jatuh dalam kesibukan secara negatif.
Jika begitu sibuknya kita, sampai-sampai kita tidak bisa menyediakan waktu untuk menolong dan meringankan beban hidup orang lain, mungkin kita sudah jatuh dalam kesibukan secara negatif.

Allah menghendaki, supaya kita menjadi manusia yang seutuhnya, yaitu manusia yang makin bertumbuh kasihnya kepada Allah, dan kasih serta kepedulian kepada sesama manusia.

Kevin DeYoung dalam bukunya, “Crazy Busy” menyatakan bahwa, “kesibukan secara negatif”, atau kesibukan yang berlebihan, bukan hanya berdampak negatif bagi tubuh fisik kita, tetapi juga menggiring kita kepada beberapa bahaya besar dalam kerohanian kita, salah satu diantaranya adalah kesombongan rohani.

Kesombongan rohani itu bisa berupa “sikap yang selalu berusaha menyenangkan orang lain.”
Kita terus menambah kesibukan kita demi memenuhi fokus kita untuk menjadi “penyenang orang” (people-pleasers), dan bukan “penyenang Allah” (God-pleasers).

Hati saya terusik dengan tulisan Kevin DeYoung yang menyatakan,

“Kita sibuk karena kita berusaha untuk melakukan banyak hal.
Kita melakukan banyak hal, karena kita mengatakan “ya” terhadap semua orang.
Kita mengatakan “ya” terhadap semua keinginan orang, karena kita ingin mereka menyukai kita, dan takut mereka menolak kita. Tidak salah untuk bersikap ramah.
Keramahan adalah salah satu tanda seorang pelayan.
Tetapi berusaha untuk menyenangkan semua orang, memiliki arti yang berbeda. Mengantar kue agar Anda bisa menunjukkan kasih Anda kepada orang lain, itu hal yang baik.
Tetapi jika Anda mengantar kue kepada seseorang, supaya orang itu mengasihi Anda, itu hal yang berbeda. Begitu banyak kesibukan kita berasal dari keinginan untuk memuaskan harapan orang lain.
Dan biasanya sikap seperti ini akan melukai orang-orang terdekat kita (suami, istri, anak-anak, keluarga), yang hanya mendapatkan sisa dari waktu dan tenaga kita setelah kita menyenangkan semua orang lain.”

Pdt. Rick Warren menyatakan,

“Yesus tidak pernah berusaha untuk menyenangkan semua orang.
Jadi, merupakan sebuah kekeliruan besar jika kita melakukan apa yang tidak pernah Yesus lakukan semasa hidup-Nya di dunia ini, yaitu menyenangkan semua orang.”

Jika Yesus bisa menyenangkan semua orang, maka Yesus tidak akan mati dengan cara hina disalibkan. Kita harus mengasihi semua orang, tetapi mengasihi semua orang, bukan berarti kita harus menyenangkan dan memenuhi semua keinginan orang.
Fokus kita adalah menyenangkan hati Tuhan, dan tunduk pada firman dan kehendak-Nya.

Yesus sendiri adalah orang yang sibuk. Yesus sibuk memberitakan Injil Kerajaan Allah, mengajar, melayani banyak orang, dan memuridkan.
Tetapi Yesus tidak pernah menjadi budak kesibukan. Yesus dikendalikan oleh agenda dan kehendak Allah, Bapa yang mengutus-Nya.

Di tengah-tengah kesibukan pelayanan-Nya, Yesus memprioritaskan waktu untuk menyendiri bersama Allah. Menyendiri bersama Allah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan Yesus (Matius 14:23; Markus 1:29-35; Lukas 5:16; Yohanes 6:15).
Di tengah-tengah kesibukan-Nya, Dia menghadiri pesta perkawinan, dan makan bersama orang-orang yang dianggap sebagai sampah masyarakat.

Peter Scazzero dalam bukunya “Emotionally Healthy Spirituality” (Spiritualitas yang Sehat Secara Emosi) juga mengingatkan akan bahaya besar ketika kita hanya berfokus pada “sibuk dan kerja bagi Allah” (Doing for God), lalu mengabaikan “kebersamaan dengan Allah” (Being with God).

Sikap seperti ini akan mengakibatkan pelayanan kita pada akhirnya tercemar oleh hal-hal seperti: egoisme, narsisisme, kuasa, kebutuhan akan pengakuan orang lain, kesombongan rohani, dan menempatkan diri sebagai tuan atas pelayanan kita. Harga diri dan kebermaknaan diri kita mulai bergeser, bukan lagi didasarkan pada kasih Allah yang tanpa syarat bagi kita di dalam Kristus, tetapi fokusnya telah bergeser pada pekerjaan dan kinerja kita (performance).

James Bryan Smith dalam bukunya “The Good and Beautiful God” mengingatkan:

“Kesibukan secara negatif akan merusak “margin hidup” kita.
Margin yang dimaksudkan disini adalah waktu untuk menyendiri bersama Allah, waktu beristirahat, waktu untuk menikmati hidup, ruang untuk mempererat relasi keluarga dan sahabat-sahabat, dan kesehatan kita.

Kondisi kerohanian kita, kondisi relasi, dan kesehatan fisik kita, bergantung pada margin hidup kita. Allah tidak pernah memanggil siapa pun untuk hidup tidak bermargin.”

Kesibukan seperti apakah yang telah kita jalani selama ini?
Kesibukan dalam arti positif atau negatif?
Apa sebenarnya yang kita cari dan kita kejar dalam kesibukan kita?

Mari kita mengevaluasi kesibukan hidup kita dengan jujur di hadapan Tuhan, dan menata ulang skala prioritas dalam hidup kita. Tuhan memberkati!

 

(Oleh: Ev. Binsar)

(Solo, 2 Februari 2018)

HALO, NAMA SAYA “SIBUK”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: